Merindukan Belaian sang Bunda
Oleh : Trisno Edward, SS
Di tengah malam nan gelap gulita, sang gadis jelita termangu dalam kesepian. Tatapannya menerawang kosong. Di sela-sela lamunan, terlihat bulir-bulir air mata menetes di pipi lembutnya.
Laksana air mengalir tanpa henti, air mata sang gadis terus membasahi wajahnya.Tanpa disadarinya, air matanya tumpah membasahi pakaiannya bagai air hujan. Rasa sedih penuh kegalauan menggelayuti diri sang gadis dan terlihat dari wajahnya nan ayu.
Apakah gerangan yang engkau alami, wahai sang gadis? Kecantikan dan keelokan paras sari wajahmu seakan lenyap, pudar “ ditelan” kesedihan. Dalam hati sanubarinya yang terdalam, sang gadis mengungkapkan kisah hidup yang penuh lara dan nestapa. Jiwanya memberontak, perasaannya remuk redam. Sekian lama, sang gadis mendambakan kasih sayang orang yang sangat dicintai.
Rindu, itulah nama cantik sang gadis yang sedang gundah gulana itu. Setiap hari, setiap waktu, siang berganti malam, malam berganti siang, Rindu tak henti berharap. Perjalanan waktu yang sangat panjang membuat Rindu tidak bisa menyembunyikan rasa kangen ingin bertemu orang yang sangat dicintai.
Sebuah peristiwa di masa kecil membuat Rindu berada di titik nadir kehidupannya, Peristiwa itu begitu membekas di benak Rindu. Sang gadis nan rupawan menyimpan kerinduan teramat sangat. Masa kecilnya seakan “terenggut” dengan peristiwa masa lalu.
Badai besar menghantam bahtera keluarganya. Musibah tidak terduga dan tidak disangka, telah mencabik-cabik kebahagiaan Rindu. Ia sudah tidak lagi bertemu orang-orang yang disayangi dan dicintainya.
Hingga beranjak usia remaja dan meningkat dewasa, Rindu tak kunjung menemukan orang-orang yang sangat dicintainya dan didambakannya. Hari demi hari, waktu demi waktu berganti, Rindu ingin mencari kedua orang tuanya. Kerinduan yang mendalam tidak dapat lagi ditahannya.
“Dimanakah ayah, dimanakah bunda,” tuturnya sendu.
Namun, kenyataan berkata lain, sang ayah sudah lama dipanggil Sang Pencipta dan meninggalkan Rindu selama-lamanya. Selama ini, Rindu tinggal bersama saudara ibunya bernama Tante Rini. Sang Tante begitu sangat sayang kepada Rindu. Ia memelihara, mengasuh Rindu sejak kecil sampai remaja dan beranjak dewasa.
Kasih sayang Tante Rini kepada Rindu bak melebihi kasih ibu kandung kepada anaknya. Tante Rini menganggap Rindu adalah segalanya. Rindu dirawat, dibesarkan dan disekolahkan oleh tantenya. Segitu besarnya rasa cintanya, Tante Rini takut kehilangan Rindu suatu saat nanti.
Di dalam kesedihan dan rasa berdukanya, Tante Rini menyapa Rindu dengan lembut.
“Ndu, Tante lihat akhir-akhir ini kamu sering melamun dan bersedih. Ada apa, Ndu?tanya Sang Tante.
Sambil menyeka air matanya, Rindu membalas sapaan tantenya,” Tante, sudah sekian lama aku bersama Tante. Sejak kecil aku dibesarkan Tante. Tapi, satu hal yang membuatku sedih, Tante. Aku merindukan bunda. Tante, apakah bundaku masih ada?
Mendengar perkataan Rindu, Tante Rini pun tak kuasa menahan air matanya. Tubuhnya yang masih terlihat segar meskj telah mulai menua itu, langsung memeluk erat sang keponakan tercinta.
“Rindu, anakku sayang, Tante mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Sudah lama kamu tinggal bersama Tante. Rindu sudah Tante anggap seperti anak kandung Tante sendiri”. Dalam pelukan erat Tante Rini, Rindu berucap “terima kasih atas kasih sayang Tante selama ini, tan. Apakah bunda masih ada, Tante?
Tante Rini kembali menangis sejadi-jadinya. Lalu, sang tante menceritakan peristiwa masa lalu yang “merenggut” kebahagiaan keluarga Rindu.
“Rindu sayang, sudah saatnya kamu mengetahui semua peristiwa ini. Dulu, kamu terpisah dengan ayah dan bundamu waktu kamu masih kecil. Musibah itu telah membuat keluarga ayah dan bundamu tercerai berai. Setelah beberapa waktu berlalu, Tante mendapat kabar ayahmu telah berpulang, Rindu,”kata Tante Rini.
Air mata Rindu semakin tak terbendung lagi mendengar cerita dari tantenya. Seperti sang petir menggelegar di siang bolong, Rindu tidak percaya jika ia sudah kehilangan sosok ayah selama-lamanya.
Rindu semakin histeris. “Lalu, bundaku sekarang dimana, tante, bunda dimana, katakan, katakan, tante !!!
Tante Rini juga tidak tahan lagi membendung deraian air matanya. Dalam hatinya, ia berkata sudah saatnya Rindu mengetahui dimana keberadaan sang bunda.
Tante Rini bertekad ingin mengajak Rindu mencari jejak ibundanya. Selang waktu berganti, Tante Rini menceritakan sang bunda berada di sebuah kota. Ia lama terlunta-lunta dan merana sejak kepergian sang suami yang juga ayahnya Rindu.
Ibunda Rindu pergi berkelana. Ia ingin melupakan kesedihan di masa lalu. Sang bunda menitipkan Rindu anaknya kepada sang adik, Rini.
“Bagaimana keadaan bunda sekarang, Tante,”ucap Rindu dengan suara tersekat-sekat.
“Bundamu masih ada, nak. Ia sekarang tinggal dan bekerja di sebuah kota,”kata Tante Rini. Seketika Rindu pun meraung-raung dan memekik sejadi-jadinya.
“Bundaaaaaaaaa, aku rindu bunda.Bunda dimanaaaaa?pekik Rindu dalam tangisnya. Mendengar jeritan hati sang keponakan, Tante Rini ikut menangis histeris.
“Sabar, sabarlah, nak. Kita akan mencari dan menemui bundamu. Tante berjanji,” kata Tante Rini mencoba menenangkan Rindu.
“Ayo, tante, mari kita cari bunda. Aku sudah rindu, aku sudah tidak sabar, tante,”jerit Rindu.
“Baiklah, nak, besok kita akan mencari bundamu,”ucap Tante Rini sambil membelai dan mengusap kepala Rindu serta mengecupnya. Tante Rini seakan mengerti betapa berkecamuknya perasaan Rindu saat ini.
Sang pagi menjelang disambut sinar mentari nan cerah gemilang. Rindu sudah terbangun dari tidur lelapnya. Sepanjang malam, ia terus menangis dan membayangkan sosok ibundanya.
“Bunda, aku kangen bunda.Bunda dimana sekarang,”kata Rindu dalam hatinya.
Rindu bangkit dari tempat tidurnya. Ia bergegas menuju kamar mandi, Usai mandi dan berpakaian, Rindu memanggil tantenya. Kemudianm, sang tante menyapanya,” Wah, kamu cantik sekali,Rindu, Kamu sudah siap,”tanya Tante Rini. Rindu menjawab “ aku sudah siap, tante”.
Usai sarapan pagi, Rindu bersama Tante Rini berangkat mencari keberadaan sang bunda. Di tengah perjalanan, Rindu terus bermenung dan membayangkan sang bunda. Tanpa disadari, air matanya terus mengalir membasahi wajah cantiknya.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya sampailah Rindu bersama Tante Rini dan suami sang tante bernama Om Rudi di sebuah rumah. Rumah itu sangat sederhana bahkan terkesan seperti rumah lama.
Jantung Rindu berdebar kencang, tatapan matanya tajam memandang rumah tersebut. Bibirnya terasa kaku, lidahnya kelu, terdiam tanpa sepatah kata terucap. Di tengah lamunannya, Rindu tiba-tiba terkejut karena Tante Rini mengajaknya turun dan masuk ke rumah tersebut.
“Ayo, Rindu sayang, turunlah”kata Tante Rini, “baik, tante,”jawab Rindu sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian, Rindu melangkah turun dari kendaraan. Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, Rindu melangkahkan kakinya menuju ke rumah tersebut. Namun, tatapannya tetap tajam memandang rumah tersebut.
Ia bergumam,”bunda,aku kangen bunda. Bunda dimana? Dan, air matanya laksana air sungai yang terus mengalir.
Sesampai di depan rumah itu, Tante Rini mengetuk pintunya.
“Asalamualaikum, Mbak Ayu,”ucap Tante Rini. Semenit kemudian, terdengar suara perempuan dari dalam rumah. “ Waalaikumsalam,” jawab suara dari dalam rumah.
Kemudian, seorang perempuan setengah baya beranjak tua membukakan pintu. Wajahnya terlihat berkeriput dan rambutnya sudah mulai memutih. Tapi, aura kecantikannya masih terpancar indah.
Tiba-tiba, sang perempuan itu terkejut. “Astaghfirullah, Rini, Riniiiiiii,”.
Perempuan itu seketika memekik histeris sambil memeluk Tante Rini. Tante Rini memeluk erat perempuan tersebut.
“Mbak Ayu, mbak kemana saja. Aku sudah lama tidak mendengar kabar mbak,”tutur Tante Rini terharu.
“Maafkan mbak, Rini. Mbak sekarang seperti ini. Sejak kepergian Mas Anton. Mbak menderita dan keadaan seperti ini,”kata sang ibu bernama Ayu itu.
Lalu, Ibu tersebut mengajak Tante Rini masuk ke rumahnya yang berada di perkampungan yang sejuk dan asri.
Tak lama kemudian, Tante Rini menceritakan kepada ibu Ayu yang juga sang kakak bahwa anak perempuannya dulu, sekarang sudah remaja dan beranjak dewasa. Bahkan, ia tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita.
“Mbak, anak perempuan sekarang sudah besar dan cantik,mbak,”kata Tante Rini.
Ibu Ayu langsung tersentak dan tercengang mendengar kata-kata sang adik.”Oh, dimana dia sekarang, aku ingin memeluk dan menciumnya. Rini, aku sangat merindukannya. Dimana anak sekarang, Rini,”
Tante Rini memanggil Rindu yang berdiri di depan pintu. “Kemarilah, Rindu. Sudah tiba saatnya Tante menyampaikan semuanya kepadamu. Ibu yang di dekat Tante ini adalah ibu kandungmu.Dia adalah bundamu yang kamu rindu-rindukan selama ini. Ibu ini adalah wanita yang telah melahirkanmu, nak,” jelas Tante Rini dengan suara terbata-bata.
Mendengar kata-kata Tante Rini, Rindu spontan berteriak histeris. Ia langsung memeluk Ibu tua itu dan tidak bisa menahan air matanya.
Rindu tidak henti-hentinya mengucapkan, aku rindu bunda, aku kangen bunda, aku ingin dipeluk dan memeluk bunda selamanya.
“Bunda jangan pergi lagi, bunda jangan tinggalkan aku lagi, bundaaaaaa,”jerit Rindu dalam isak tangisnya. Sang bunda pun tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.
Bertahun-tahun,ia kehilangan orang yang dicintainya sampai ia hidup menderita dan terlunta-lunta. Peristiwa kelam di masa lalu telah merubah jalan hidup sang bunda.Terpisah selamanya dari sang suami tercinta dan tidak bertemu lagi sang buah hati yang sangat dicintainya.
Kini, waktu telah mengubah segalanya. Sang ibunda telah kembali bertemu sang putri tercinta. Pertemuan yang berujung kebahagiaan seakan telah merubah segalanya. Kerinduan Rindu yang terpendam selama ini terhadap sosok sang bunda telah terobati semuanya. Kini mereka akan kembali merajut tali silaturrahmi keluarga, merenda kebahagiaan yang hakiki dan akan selamanya abadi.
Rindu dan ibunya telah bertemu kembali. Meski badai menghadang dan berbagai rintangan, namun ikatan tali kasih antara ibu dan anaknya tidak akan pernah terputus walau diterpa rintangan apapun juga.(***)
“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa”
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu?

Jadi ingat Bundaku 😥 udah setahun tenang di alam sana, moga Bunda mendapatkan terbaik di sisi Allah SWT, Aaamiin. Mkasih sharenya bang.
BalasHapusSad Ceritanya, Keinget anime jadul Achi mencari ibunya yang padahal ibunya sangat dekat.
BalasHapusLarut aku dalam ceritanya
BalasHapus